KH. GHOZALI BIN LANAH

Ulama berdarah Madura yang lahir pada tahun 1184 H / 1770 M ini semasa kecil memiliki nama saliyo. Sebagai Putra sulung dari Mbah lanah, beliau banyak Mewarisi sifat-sifat mulia dari Ayahnya baik dari segi ketaatan beribadah maupun kecintaannya terhadap ilmu.

Pada masa remaja saliyo menimba ilmu di pesantren Belitung kalipang sarang yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Mursyidin. Suatu ketika, Pesantren asuhan Kyai mursyidin tersebut kedatangan seorang santri baru berasal dari Maqom Agung Tuban yang bernama jawahir.

Ia merupakan santri dari Kyai Ma’ruf yang hendak pulang namun menyempatkan diri untuk pindah di Belitung. Jawahir yang saat itu dikenal mumpuni dalam ilmu fiqih ditempatkan satu kamar bersama saliyo.

Dalam suatu kesempatan saliyo dan jawahir berdiskusi mengenai permasalahan fiqih dan Nahwu. Sebelum berdiskusi mereka telah membuat kesepakatan bahwa pihak yang kalah dalam diskusi tersebut akan menjadikan pihak yang menang sebagai guru. Namun, karena keduanya adalah santri yang cemerlang dalam diskusi tersebut tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. keadaan tersebut membuat mereka mengambil keputusan bahwa mereka berdua bertukar tempat dalam menimba ilmu. Saliyo belajar di Maqom Agung Tuban sementara jawahir menimpa ilmu di Belitung.

Sesuai dengan kesepakatan, saliyo pun berhijrah ke maqom Agung di bawah bimbingan Kyai Ma’ruf. Saliyo menghabiskan waktunya untuk belajar di Maqom Agung dalam waktu yang lumayan lama. Dalam suatu kesempatan, Kyai Ma’ruf berinisiatif mengevaluasi kemapanam santri-santrinya. Kyai Ma’ruf mengajukan pertanyaan berkenaan dengan disiplin ilmu Nahwu. Pada saat itu tidak ada santri yang mampu menjawab pertanyaan dari Sang guru tersebut.

Sesaat kemudian ada seorang santri yang memohon untuk diperkenankan berbicara. santri tersebut berkata: Nuwun Sewu Yai, wonten santri ingkang saget jawab. Asmanipun saliyo engkang dipun laqobi tumpul. (Maaf Kyai ada santri yang mampu menjawab. Namanya saliyo yang biasa disapa tumpul ). Setelah dipersilahkan untuk menjawab saliyo pun tanpa kesulitan menjawab pertanyaan Kyai. sebelum mengajukan pertanyaan Kyai Ma’ruf telah berjanji: “Barang siapa yang mampu menjawab pertanyaanku akan ku angkat menjadi saudara iparku.”

Kyai Ma’ruf pun menepati janjinya dengan menjodohkan saliyo dengan seorang wanita (adik iparnya sendiri) yang bernama Pinang. Pinang merupakan santri Kyai Muhdlor dari Sidoarjo. Sebagai santri yang patuh kepada guru saliyo pun menerima patuah gurunya. Dari pernikahannya saliyo dikarunia 6 orang putra-putri, yaitu Ny. Hj. Sa’idah (istri dari KH. Ahmad syu’iab), Ny. Syamsiroh (istri dari KH. Umar bin Harun), Ny. shobiroh  (istri dari Kyai Syamsuri), Ny. Syari’ah (istri dari Kyai Thoyyib), Abdurro’uf dan KH. Fathurrahman..

Setelah lama menuntut ilmu dimaqom agung saliyo pun diizinkan pulang ke kampung halamannya dengan bertambah satu kemampuan baginya. bila sebelumnya ia hanya mahir dalam disiplin ilmu nahwu, kini ia juga mahir dalam disiplin ilmu fiqih yang ia tekuni semasa nyantri di Kiai Ma’ruf.

Setibanya di sarang, saliyo mulai menyebarluaskan ilmu yang beliau dapatkan dalam pengembaraan panjangnya selama ini. dengan perlahan tapi pasti beliau menyelenggarakan pengajian-pengajian. Ketika ayah beliau meninggal dunia, saliyo meneruskan perjuangan sang ayah yakni mendidik masyarakat untuk taat beribadah kepada Allah.

Saliyo dengan sabar dan tekun mendidik murid-murid dan masyarakatnya sehingga lambat laun semakin banyak orang yang tertarik dengan pengajian beliau, awalnya, orang-orang yang belajar kepada saliyo didominasi masyarakat setempat. namun, Seiring berjalannya waktu banyak pelajar dari luar daerah yang ingin nyantri Kepada beliau. Melihat tempat yang kurang layak saya berinisiatif mendirikan sebuah tempat menginap para pencari ilmu agama atau disebut dengan nama pondok pesantren. Berbekal tanah wakafan dari seorang Dermawan yang bernama Usman atau yang lebih akrab disapa Mbah Saman. salio membangun sebuah Mushola yang sekarang sudah menjadi Masjid Jami MIS yang berdampingan dengan Kompleks A PP. MIS Untuk kamar santri.  inilah awal mula pembangunan pondok pesantren yang ada di Sarang.

Beberapa tahun kemudian beliau berangkat ke tanah suci guna melaksanakan rukun Islam yang kelima setelah menghabiskan waktu hingga 7 bulan dalam mengarungi samudra menuju Tanah Suci saliyo pun sampai di tanah kelahiran Rasulullah. namun sayangnya, ketika beliau sampai di Mekah para jamaah haji telah melakukan hukum di Arafah sehingga untuk melaksanakan ibadah haji beliau harus bermukim di sana selama 1 bulan menunggu musim Haji berikutnya.

Kesempatan ini tidak disia-siakannya begitu saja.  waktu setahun menunggu musim Haji tersebut beliau manfaatkan untuk menimba ilmu dari para ulama Makkah pada waktu itu. dalam kesempatan ini juga beliau menulis Kitab Tafsir Jalalain dengan tangan sendiri yang hingga kini kitab tulis beliau tersebut masih tersimpan rapi di pesantren MIS. setelah kembali dari tanah suci, sebagai tafa’ul beliau berganti nama menjadi Ghozali.

Menurut sumber yang diyakini kebenarannya. Kyai Ghozali memiliki beberapa kelebihan (maziyyah). pada suatu hari, kala Camat sarang selesai mengadakan SIDAK  (inspeksi mendadak) ke seluruh desa termasuk Desa Karangmangu sekitar Pondok sarang, ia naik kuda ke arah barat untuk pulang. Tiba-tiba ia merasakan silau sehingga tidak ada jalan yang bisa dilewati akibat pancaran sinar tersebut.

Ia memutuskan untuk turun dari kuda dan mendekati pusat pancaran sinar tersebut. Camat terkejut karena sinar yang ia lihat bukanlah pancaran sinar biasa, tetapi Sinar itu datang dari wajah Kyai Ghozali yang tengah duduk di tepi jalan sambil membuat tambang. pada lain kesempatan, Camat tadi sowan pada Kiai Ghozali dan berjanji akan beribadah dan mewakafkan langgar di sarang sebagai penghormatan.

Setelah menghabiskan waktu hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama kepada para santri agar para santri dapat meneruskan perjuangan agama Allah  pada tahun 1275 H atau bertepatan 1859 M beliau kembali pada kekasih sejatinya, Dzat yang Maha Allah SWT Pencipta. Dalam usia 91 tahun, dimakamkan di Maqbaroh stumbun. beliau wafat dengan meninggalkan segudang jasa bagi perkembangan Pondok sarang. Tetapi menurut riwayat lain yaitu tahun 1906 M . Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh beliau KH. Ibnul Mubarok dalam video berikut ;

Shares: